REPESENTASI KRITIK SOSIAL PADA LAGU ”BAYAR BAYAR BAYAR” KARYA SUKATANI : ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES
Abstrak
Fenomena kritik sosial melalui musik di Indonesia semakin mendapat perhatian, terlebih ketika lagu “Bayar Bayar Bayar” karya Sukatani memicu kontroversi publik akibat liriknya yang menyoroti praktik pungutan liar oleh oknum kepolisian. Musik, selain sebagai media hiburan, juga berfungsi sebagai sarana menyampaikan kritik sosial terhadap ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi kritik sosial yang terkandung dalam lirik lagu “Bayar Bayar Bayar” karya Sukatani dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis data berupa identifikasi makna denotasi, konotasi, dan mitos yang melekat pada tiap bait lirik lagu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara denotatif, lirik lagu menggambarkan realitas adanya kewajiban membayar sejumlah uang dalam berbagai urusan publik. Secara konotatif, lirik menyiratkan kritik tajam terhadap praktik pungutan liar yang dianggap sebagai bentuk penyimpangan wewenang aparat penegak hukum. Sedangkan pada tataran mitos, lirik merefleksikan keyakinan kolektif masyarakat bahwa “membayar polisi” adalah sesuatu yang wajar dan menjadi syarat tidak resmi dalam memperoleh pelayanan publik. Penelitian ini menegaskan bahwa musik berperan penting sebagai media kritik sosial, sekaligus mengungkap bagaimana makna-makna tersebut dikonstruksi dan dipahami masyarakat melalui simbol dan budaya.
Kata kunci: kritik sosial, semiotika Roland Barthes, Sukatani, pungutan liar.


