Program One Day With Lampung Language

Authors

  • Wiwi Pratiwi Universitas Lampung
  • Renti Oktaria

DOI:

https://doi.org/10.33061/jai.v6i1.3919

Keywords:

Early Childhood, Language Development, One Day With Lampung Language Program

Abstract

One of the most important parts in the development of thinking is language. Language develops systematically with age. Mother tongue in the context of early childhood is the first language mastered by children from birth through interactions with family members and the environment. Mother tongue is often used and even carried over in formal situations in the use of Indonesian. The one-day program in Lampung was established to restore the mother tongue to early childhood in Lampung province. The existence of the Lampung language in Lampung Province is currently in the endangered category because there has been no regeneration of the Lampung language to the next generation as well as the influence of the environment and daily interactions. So that conservation and revitalization are carried out so that the Lampung language continues to exist and needs to be maintained. This research was conducted using the Literature Study method. One-day warning research program in Lampung language for early childhood at TK Kartika II-27 Bandarlampung. Researchers analyzed how children's learning activities by focusing on research programs one day in Lampung language.

 

Abstrak

Salah satu bagian terpenting dalam perkembangan berpikir adalah bahasa. Bahasa berkembang secara sistematis bersamaan dengan bertambahnya usia. Bahasa ibu dalam lingkup anak usia dini  merupakan bahasa pertama yang dikuasai anak sejak lahir melalui interaksi dengan anggota keluarga dan lingkungan. Bahasa ibu sering kali digunakan bahkan terbawa kedalam situasi formal pada penggunaan bahasa Indonesia. Program one day with Lampung language dibentuk untuk mengembalikan bahasa ibu pada anak usia dini di provinsi Lampung. Keberadaan Bahasa Lampung di Provinsi Lampung  saat ini juga masuk dalam kategori terancam punah lantaran belum ada regenerasi bahasa lampung kepada generasi-generasi penerus selanjutnya serta pengaruh dari lingkungan, dan pergaulan sehari-hari. Sehingga perlu adanya konservasi dan revitalisasi yang dilakukan agar Bahasa Lampung tetap eksis dan dipertahankan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Studi Literatur. Peneliti mengamati program one day with Lampung language pada anak usia dini di TK Kartika II-27 Bandarlampung. Peneliti menganalisa bagaimana kegiatan belajar anak dengan memfokuskan penelitian pada program one day with lampung language.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Sumarsono. 2007. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kusumohamidjojo, B. (2000). Kebhinnekaan Masyarakat Indonesia: Suatu Problematik Filsafat Kebudayaan. Jakarta: Grasindo

Nurbiana Dhieni, dkk 2013. Metode

Pengembangan Bahasa. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka

Enny Zubaidah, 2004. Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini dan Teknik Pengembangannya di Sekolah. Universitas Negeri Yogyakarta. Diakses online pada tanggal 30 November 2019 pada laman https://media.neliti.com/media/publications/87931-none-cfdaf892.pdf

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, Bab VII, pasal 33 tentang Bahasa

Pengantar menyebutkan: (1) Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara digunakan sebagai bahasa

pengantar dalam pendidikan nasional; (2) Bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar

pada tahap awal pendidikan serta dalam penyampaian pengetahuan dan/atau ketrampilan tertentu;

(3) Bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar pada satuan pendidikan tertentu untuk

mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik.

Dari konstitusi ini, Bahasa Indonesia yang di dalamnya banyak ragam bahasa, termasuk

Bahasa Jawa, Sunda, Papua, Sumatera, Bali, dan lainnya menjadi utama daripada bahasa asing.

Artinya, Bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan nasional dari berbagai

jenjang, dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA. Di jenjang SD/MI yang paling menonjol adalah

penggunaan bahasa ibu yang di dalamnya ada bahasa daerah dan bahasa nasional sebagai bahasa

pertama.

Secara kajian linguistik, bahasa ibu disebut mother tongue atau native language yang lebih

dominan didapat dari “pemerolehan bahasa” bukan “pembelajaran bahasa”. Hal itu sesuai pendapat

Chaer (2002) bahwa bahasa ibu diperoleh melalui pemerolehan bahasa, yaitu suatu proses yang

berlangsung di dalam otak seorang anak-anak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau

bahasa ibunya.

Bahasa Ibu dalam bahasa Inggris disebut native language yaitu bahasa pertama yang dikuasai

atau diperoleh anak (Soenjono, 2003). Sementara Kathi (2011) menyatakan “a mother tongue can

be dened as a language learnt before any other language has been learnt”. Artinya, bahasa ibu

adalah bahasa yang dipelajari sebelum bahasa lain dipelajari (Indriyani, Ngatman, Joharman, 2014).

Dari denisi Soenjono (2003), Chaer (2002) dan Kathi (2011) di atas, dapat disimpulkan

bahasa itu merupakan bahasa asli, bahasa pertama, yang dikuasai manusia sejak awal hidupnya

melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya. Anggota yang dimaksud itu bisa

keluarga, teman sebaya, masyarakat di sekitar dan lainnya.

Dalam pendidikan di sekolah, secara umum menggunakan Bahasa Indonesia dan bahasa

daerah sebagai alat komunikasi sehari-hari, baik di dalam maupun luar kelas. Dalam konteks ini,

anak-anak yang memiliki bekal bahasa ibu dari rumah dan masyarakat, akan semakin berkembang

baik jika iklim bahasa dalam sekolah baik pula. Makna baik di sini tidak hanya dalam proses

pengenalan bunyi, lambang, dan kata, namun juga berkaitan dengan budaya yang lahir dari bahasa

tersebut.

Secara konseptual dalam kajian psikolinguistik, bahasa ibu atau bahasa pertama dikenal

dengan (B1), sementara bahasa kedua dikenal dengan simbol (B2). Bahasa ibu di sini diperoleh

individu secara natural dan teorinya lebih ke pemerolehan bahasa karena ia bersifat alamiah dan

tidak ada pengaruh dari luar. Bahasa ibu diperoleh dari lingkungan terdekat, terutama lingkungan

asal individu, bisa dari keluarga, teman maupun masyarakat sekitar. Maka dari itu, bahasa ibu

berhubungan erat dengan bahasa daerah di mana seorang individu lahir, besar dan tinggal.

Subyantoro (2012) menjelaskan Bahasa Ibu (B1) memiliki ciri pada urutan kemampuannya,

kesempurnaan penguasaannya dan fungsinya dalam kehidupan anak. Sementara bahasa kedua (B2),

diperoleh mereka setelah memperoleh bahasa lain. Denisi ini menunjukkan, kemampuan dan

kesempurnaan anak dalam B1 bisa menerapkan fungsi bahasa itu dalam kehidupan anak. Fungsi

bahasa ibu tidak sekadar urusan komunikasi, namun erat kaitannya dengan identitas, karakter serta

SHAHIH - Vol 2, Nomor 2, Juli - Desember 2017199

budaya.

Jika orang lahir, besar dan hidup di Jawa, maka kemungkinan bahasa ibunya adalah Jawa.

Begitu juga dengan daerah lain, seperti Sunda, Batak, Bugis, Madura, Papua dan lainnya. Untuk

masyarakat perkotaan, karena menggunakan Bahasa Indonesia, maka kebanyakan B1 pada anak-

anak adalah Bahasa Indonesia sebagaimana konstruksi bahasa pertamanya.

Anak-anak lahir di Sunda, misalnya, kemudian ia mendapatkan dan menguasai Bahasa Sunda

sebagai bahasa pertama, maka bahasa ibu pada anak tersebut adalah Bahasa Sunda. Secara umum,

bahasa ibu lebih dominan bahasa lokal atau bahasa daerah di mana anak itu tinggal, tidak pada

bahasa nasional ataupun bahasa asing/internasional yang digunakan dalam lembaga pendidikan.

Konsep bahasa ibu dalam pendidikan, terutama di jenjang SD/MI, tentu diterapkan dalam

pembelajaran Bahasa Indonesia dan muatan lokal bahasa daerah, seperti contoh Bahasa Jawa.

Untuk Bahasa Indonesia memang masuk dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

dan Kurikulum 2013. Sedangkan bahasa derah, seperti Jawa, menjadi otonomi di masing-masing

provinsi atau kabupaten/kota. Sebab, setiap daerah memiliki muatan lokal masing-masing.

Bahasa ibu dalam pendidikan terutama dalam pembelajaran bahasa, berkaitan dengan catur

tunggal kemampuan berbahasa. Tarigan (1994) menjelaskan keterampilan berbahasa Indonesia

mencakup keterampilan menyimak, berbicara, menulis, dan membaca. Dalam pembelajaran bahasa,

baik Bahasa Indonesia maupun bahasa daerah, sudah seharusnya pemertahanan bahasa ibu menjadi

program utama agar anak-anak memiliki ketahanan bahasa dari gempuran bahasa asing.

Pemertahanan yang dimaksud tidak sekadar dalam komunikasi di sekolah, melainkan harus

terstruktur rapi, terkonsep ilmiah karena bahasa ibu memiliki keunikan daripada bahasa kedua.

Maka harus ada konsep pembelajaran bahasa ibu yang mendukung upaya pemertahanan bahasa ibu

sebagai bahasa pertama bagi anak-anak.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, Bab VII, pasal 33 tentang Bahasa

Pengantar menyebutkan: (1) Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara digunakan sebagai bahasa

pengantar dalam pendidikan nasional; (2) Bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar

pada tahap awal pendidikan serta dalam penyampaian pengetahuan dan/atau ketrampilan tertentu;

(3) Bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar pada satuan pendidikan tertentu untuk

mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik.

Dari konstitusi ini, Bahasa Indonesia yang di dalamnya banyak ragam bahasa, termasuk

Bahasa Jawa, Sunda, Papua, Sumatera, Bali, dan lainnya menjadi utama daripada bahasa asing.

Artinya, Bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan nasional dari berbagai

jenjang, dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA. Di jenjang SD/MI yang paling menonjol adalah

penggunaan bahasa ibu yang di dalamnya ada bahasa daerah dan bahasa nasional sebagai bahasa

pertama.

Secara kajian linguistik, bahasa ibu disebut mother tongue atau native language yang lebih

dominan didapat dari “pemerolehan bahasa” bukan “pembelajaran bahasa”. Hal itu sesuai pendapat

Chaer (2002) bahwa bahasa ibu diperoleh melalui pemerolehan bahasa, yaitu suatu proses yang

berlangsung di dalam otak seorang anak-anak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau

bahasa ibunya.

Bahasa Ibu dalam bahasa Inggris disebut native language yaitu bahasa pertama yang dikuasai

atau diperoleh anak (Soenjono, 2003). Sementara Kathi (2011) menyatakan “a mother tongue can

be dened as a language learnt before any other language has been learnt”. Artinya, bahasa ibu

adalah bahasa yang dipelajari sebelum bahasa lain dipelajari (Indriyani, Ngatman, Joharman, 2014).

Dari denisi Soenjono (2003), Chaer (2002) dan Kathi (2011) di atas, dapat disimpulkan

bahasa itu merupakan bahasa asli, bahasa pertama, yang dikuasai manusia sejak awal hidupnya

melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya. Anggota yang dimaksud itu bisa

keluarga, teman sebaya, masyarakat di sekitar dan lainnya.

Dalam pendidikan di sekolah, secara umum menggunakan Bahasa Indonesia dan bahasa

daerah sebagai alat komunikasi sehari-hari, baik di dalam maupun luar kelas. Dalam konteks ini,

anak-anak yang memiliki bekal bahasa ibu dari rumah dan masyarakat, akan semakin berkembang

baik jika iklim bahasa dalam sekolah baik pula. Makna baik di sini tidak hanya dalam proses

pengenalan bunyi, lambang, dan kata, namun juga berkaitan dengan budaya yang lahir dari bahasa

tersebut.

Secara konseptual dalam kajian psikolinguistik, bahasa ibu atau bahasa pertama dikenal

dengan (B1), sementara bahasa kedua dikenal dengan simbol (B2). Bahasa ibu di sini diperoleh

individu secara natural dan teorinya lebih ke pemerolehan bahasa karena ia bersifat alamiah dan

tidak ada pengaruh dari luar. Bahasa ibu diperoleh dari lingkungan terdekat, terutama lingkungan

asal individu, bisa dari keluarga, teman maupun masyarakat sekitar. Maka dari itu, bahasa ibu

berhubungan erat dengan bahasa daerah di mana seorang individu lahir, besar dan tinggal.

Subyantoro (2012) menjelaskan Bahasa Ibu (B1) memiliki ciri pada urutan kemampuannya,

kesempurnaan penguasaannya dan fungsinya dalam kehidupan anak. Sementara bahasa kedua (B2),

diperoleh mereka setelah memperoleh bahasa lain. Denisi ini menunjukkan, kemampuan dan

kesempurnaan anak dalam B1 bisa menerapkan fungsi bahasa itu dalam kehidupan anak. Fungsi

bahasa ibu tidak sekadar urusan komunikasi, namun erat kaitannya dengan identitas, karakter serta

SHAHIH - Vol 2, Nomor 2, Juli - Desember 2017199

budaya.

Jika orang lahir, besar dan hidup di Jawa, maka kemungkinan bahasa ibunya adalah Jawa.

Begitu juga dengan daerah lain, seperti Sunda, Batak, Bugis, Madura, Papua dan lainnya. Untuk

masyarakat perkotaan, karena menggunakan Bahasa Indonesia, maka kebanyakan B1 pada anak-

anak adalah Bahasa Indonesia sebagaimana konstruksi bahasa pertamanya.

Anak-anak lahir di Sunda, misalnya, kemudian ia mendapatkan dan menguasai Bahasa Sunda

sebagai bahasa pertama, maka bahasa ibu pada anak tersebut adalah Bahasa Sunda. Secara umum,

bahasa ibu lebih dominan bahasa lokal atau bahasa daerah di mana anak itu tinggal, tidak pada

bahasa nasional ataupun bahasa asing/internasional yang digunakan dalam lembaga pendidikan.

Konsep bahasa ibu dalam pendidikan, terutama di jenjang SD/MI, tentu diterapkan dalam

pembelajaran Bahasa Indonesia dan muatan lokal bahasa daerah, seperti contoh Bahasa Jawa.

Untuk Bahasa Indonesia memang masuk dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

dan Kurikulum 2013. Sedangkan bahasa derah, seperti Jawa, menjadi otonomi di masing-masing

provinsi atau kabupaten/kota. Sebab, setiap daerah memiliki muatan lokal masing-masing.

Bahasa ibu dalam pendidikan terutama dalam pembelajaran bahasa, berkaitan dengan catur

tunggal kemampuan berbahasa. Tarigan (1994) menjelaskan keterampilan berbahasa Indonesia

mencakup keterampilan menyimak, berbicara, menulis, dan membaca. Dalam pembelajaran bahasa,

baik Bahasa Indonesia maupun bahasa daerah, sudah seharusnya pemertahanan bahasa ibu menjadi

program utama agar anak-anak memiliki ketahanan bahasa dari gempuran bahasa asing.

Pemertahanan yang dimaksud tidak sekadar dalam komunikasi di sekolah, melainkan harus

terstruktur rapi, terkonsep ilmiah karena bahasa ibu memiliki keunikan daripada bahasa kedua.

Maka harus ada konsep pembelajaran bahasa ibu yang mendukung upaya pemertahanan bahasa ibu

sebagai bahasa pertama bagi anak-anak.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, Bab VII, pasal 33 tentang Bahasa

Pengantar menyebutkan: (1) Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara digunakan sebagai bahasa

pengantar dalam pendidikan nasional; (2) Bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar

pada tahap awal pendidikan serta dalam penyampaian pengetahuan dan/atau ketrampilan tertentu;

(3) Bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar pada satuan pendidikan tertentu untuk

mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik.

Dari konstitusi ini, Bahasa Indonesia yang di dalamnya banyak ragam bahasa, termasuk

Bahasa Jawa, Sunda, Papua, Sumatera, Bali, dan lainnya menjadi utama daripada bahasa asing.

Artinya, Bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan nasional dari berbagai

jenjang, dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA. Di jenjang SD/MI yang paling menonjol adalah

penggunaan bahasa ibu yang di dalamnya ada bahasa daerah dan bahasa nasional sebagai bahasa

pertama.

Secara kajian linguistik, bahasa ibu disebut mother tongue atau native language yang lebih

dominan didapat dari “pemerolehan bahasa” bukan “pembelajaran bahasa”. Hal itu sesuai pendapat

Chaer (2002) bahwa bahasa ibu diperoleh melalui pemerolehan bahasa, yaitu suatu proses yang

berlangsung di dalam otak seorang anak-anak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau

bahasa ibunya.

Bahasa Ibu dalam bahasa Inggris disebut native language yaitu bahasa pertama yang dikuasai

atau diperoleh anak (Soenjono, 2003). Sementara Kathi (2011) menyatakan “a mother tongue can

be dened as a language learnt before any other language has been learnt”. Artinya, bahasa ibu

adalah bahasa yang dipelajari sebelum bahasa lain dipelajari (Indriyani, Ngatman, Joharman, 2014).

Dari denisi Soenjono (2003), Chaer (2002) dan Kathi (2011) di atas, dapat disimpulkan

bahasa itu merupakan bahasa asli, bahasa pertama, yang dikuasai manusia sejak awal hidupnya

melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya. Anggota yang dimaksud itu bisa

keluarga, teman sebaya, masyarakat di sekitar dan lainnya.

Dalam pendidikan di sekolah, secara umum menggunakan Bahasa Indonesia dan bahasa

daerah sebagai alat komunikasi sehari-hari, baik di dalam maupun luar kelas. Dalam konteks ini,

anak-anak yang memiliki bekal bahasa ibu dari rumah dan masyarakat, akan semakin berkembang

baik jika iklim bahasa dalam sekolah baik pula. Makna baik di sini tidak hanya dalam proses

pengenalan bunyi, lambang, dan kata, namun juga berkaitan dengan budaya yang lahir dari bahasa

tersebut.

Secara konseptual dalam kajian psikolinguistik, bahasa ibu atau bahasa pertama dikenal

dengan (B1), sementara bahasa kedua dikenal dengan simbol (B2). Bahasa ibu di sini diperoleh

individu secara natural dan teorinya lebih ke pemerolehan bahasa karena ia bersifat alamiah dan

tidak ada pengaruh dari luar. Bahasa ibu diperoleh dari lingkungan terdekat, terutama lingkungan

asal individu, bisa dari keluarga, teman maupun masyarakat sekitar. Maka dari itu, bahasa ibu

berhubungan erat dengan bahasa daerah di mana seorang individu lahir, besar dan tinggal.

Subyantoro (2012) menjelaskan Bahasa Ibu (B1) memiliki ciri pada urutan kemampuannya,

kesempurnaan penguasaannya dan fungsinya dalam kehidupan anak. Sementara bahasa kedua (B2),

diperoleh mereka setelah memperoleh bahasa lain. Denisi ini menunjukkan, kemampuan dan

kesempurnaan anak dalam B1 bisa menerapkan fungsi bahasa itu dalam kehidupan anak. Fungsi

bahasa ibu tidak sekadar urusan komunikasi, namun erat kaitannya dengan identitas, karakter serta

SHAHIH - Vol 2, Nomor 2, Juli - Desember 2017199

budaya.

Jika orang lahir, besar dan hidup di Jawa, maka kemungkinan bahasa ibunya adalah Jawa.

Begitu juga dengan daerah lain, seperti Sunda, Batak, Bugis, Madura, Papua dan lainnya. Untuk

masyarakat perkotaan, karena menggunakan Bahasa Indonesia, maka kebanyakan B1 pada anak-

anak adalah Bahasa Indonesia sebagaimana konstruksi bahasa pertamanya.

Anak-anak lahir di Sunda, misalnya, kemudian ia mendapatkan dan menguasai Bahasa Sunda

sebagai bahasa pertama, maka bahasa ibu pada anak tersebut adalah Bahasa Sunda. Secara umum,

bahasa ibu lebih dominan bahasa lokal atau bahasa daerah di mana anak itu tinggal, tidak pada

bahasa nasional ataupun bahasa asing/internasional yang digunakan dalam lembaga pendidikan.

Konsep bahasa ibu dalam pendidikan, terutama di jenjang SD/MI, tentu diterapkan dalam

pembelajaran Bahasa Indonesia dan muatan lokal bahasa daerah, seperti contoh Bahasa Jawa.

Untuk Bahasa Indonesia memang masuk dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

dan Kurikulum 2013. Sedangkan bahasa derah, seperti Jawa, menjadi otonomi di masing-masing

provinsi atau kabupaten/kota. Sebab, setiap daerah memiliki muatan lokal masing-masing.

Bahasa ibu dalam pendidikan terutama dalam pembelajaran bahasa, berkaitan dengan catur

tunggal kemampuan berbahasa. Tarigan (1994) menjelaskan keterampilan berbahasa Indonesia

mencakup keterampilan menyimak, berbicara, menulis, dan membaca. Dalam pembelajaran bahasa,

baik Bahasa Indonesia maupun bahasa daerah, sudah seharusnya pemertahanan bahasa ibu menjadi

program utama agar anak-anak memiliki ketahanan bahasa dari gempuran bahasa asing.

Pemertahanan yang dimaksud tidak sekadar dalam komunikasi di sekolah, melainkan harus

terstruktur rapi, terkonsep ilmiah karena bahasa ibu memiliki keunikan daripada bahasa kedua.

Maka harus ada konsep pembelajaran bahasa ibu yang mendukung upaya pemertahanan bahasa ibu

sebagai bahasa pertama bagi anak-

Radarlampung. 2019. Bahasa Lampung

yang hampir punah, ini sebabnya Diakses pada tanggal 27 November 2019 pada laman https://radarlampung.co.id/2019/09/20/bahasa-lampung-terancam-punah-ini- sebabnya/

Nandita Wana Putri. 2018. Pergeseran Bahasa Daerah Lampung Pada Masyarakat Kota Bandar Lampung. Journal of linguistics Vol.3 No 1, April 2018. Akademi Keperawatan Panca Bhakti Bandar Lampung.

Hamidulloh Ibda. 2017.Urgensi Pemertahanan Bahasa Ibu di Sekolah Dasar. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Temanggung.

Lestari Gina. 2015. Bhinnekha Tunggal

Ika: Khasanah Multikultural Indonesia Di Tengah Kehidupan Sara. Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, No 1. Universitas Gadjah Mada. Diakses online pada tanggal 3 Juni 2020 pada laman http://journal.um.ac.id/index.php/jppk/article/download/5437/2037

Al-Pansori Muh. Jaelani, Ediyono Suryo.

Pemertahanan Bahasa Sasak Di Kecamatan Utan Sumbawa (Perspektif Bodily Hexis Sosiokultural). Proceeding of 2nd International Conference of Arts Language And Culture. Surakarta: 4 November 2017. Hal 656-657

Reneo, Ayu Alvica, 2015. Hubungan

Heterogenitas Suku Dan Amalgamasi Dengan Pudarnya Penggunaan Bahasa Lampung Bagi Remaja Di Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan. Diss. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Mainizar, 2013. Peranan Orang Tua

Dalam Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa Pada Anak Usia 2-6 Tahun. Marwah: Jurnal Perempuan, Agama dan Jender 12.1 (2013): 91-104. Diakses Pada Tanggal 3 Juni 2020 Pada Laman Http://Ejournal.Uin Suska.Ac.Id/Index.Php/Marwah/Article/Download/516/496

Sumarsono. 2007. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Patmonodewo, Soemiarti. 2008. Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Published

2021-08-11

How to Cite

Pratiwi, W., & Oktaria, R. (2021). Program One Day With Lampung Language. JURNAL AUDI : Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Anak Dan Media Informasi PAUD, 6(1), 1–6. https://doi.org/10.33061/jai.v6i1.3919