Analisis Konflik dan Resolusi Perdamaian: Studi Kasus Konflik Lahan Perkebunan Pangalengan 2002-2015

Penulis

  • Mohammad Badrudin Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Abstrak

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas masyarakatnya bekerja di sektor pertanian dan perkebunan. Hal ini membuat Indonesia memiliki lahan perkebunan yang banyak tersebar di seluruh Indonesia. Namun, dengan banyaknya lahan perkebunan tersebut dapat memunculkan berbagai permasalahan seperti konflik. Salah satu contoh konflik yang sudah terjadi adalah konflik antara masyarakat perkebunan di Pangalengan Jawa Barat dengan PT. Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII. Konflik ini berawal ketika PTPN VIII menempati lahan perkebunan teh di Pangelangan untuk dijadikan lahan penampungan sementara bagi korban gempa Pangalengan. Seiring berjalannya waktu masyarakat setempat meminta hak tanah permanen untuk dijadikan lahan tempat tinggalnya. Dengan adanya perbedaan kepentingan tersebut, konflik perkebunan Pangelangan menjadi semakin Panjang hingga menimbulkan kekerasan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif yang menekankan pada Teknik kepustakaan dengan melalui pendekatan teori konflik dan perdamaian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyelesaian konflik agraria yang terjadi antara masyarakat petani Pangelengan dengan PTPNVIII melalui pedekatan politik dan sosial. Penyelesaian konflik perkebunan di Pangalengan Jawa Barat diakukan melalui beberapa tahapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelesaian konflik dilakukan dengan menempuh  jalan musyawarah antara masyarakat petani pangalengan dengan PTPN VIII. Berbagai upaya negosiasi dilakukan oleh kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan bersama guna menyelesaikan konflik tersebut. 

 

Diterbitkan

2025-07-20

Cara Mengutip

Mohammad Badrudin. (2025). Analisis Konflik dan Resolusi Perdamaian: Studi Kasus Konflik Lahan Perkebunan Pangalengan 2002-2015. Globalization and Foreign Affairs Journal, 2(2). Diambil dari https://ejurnal.unisri.ac.id/index.php/gfa/article/view/12999